cool hit counter

Majelis Tabligh - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Tabligh
.: Home > Artikel

Homepage

AL-QUR’AN DAN PETA JALAN KEBANGKITAN UMMAT - Khutbah Idul Fitri

.: Home > Artikel > Majelis
24 Juni 2017 21:43 WIB
Dibaca: 448
Penulis : H. Fahmi Salim, MA.

 

 

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, AllahuAkbar Walillahil Hamdu

Pagi ini kita berkumpul di sini, merapatkan jiwa dan raga, menadahkan hati untuk cucuran rahmat Ilahi. Pagi ini kita berkumpul di sini, bertakbir, membesarkan nama Allah, agar terpatri sampai ke relung hati bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, selainNya adalah kecil di hadapanNya. Permasalahan sebesar apapun, menjadi kecil di hadapan keagungan kekuasaanNya. Musuh yang kuat, menjadi lemah di hadapan kekuatanNya yang tiada berbatas. Mari bertakbir dengan jiwa, lisan dan raga kita.

Kita bertakbir, bertahmid dan bertahlil terus menerus memenuhi angkasa jiwa dan raga setelah kita dengan izin Allah dapat menundukkan hawa nafsu di bulan Ramadhan, untuk senantiasa berproses menjadi hamba Allah yang selalu patuh dan ta’at kepada perintah dan larangan dari Allah ta’ala.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah..

Bagi ummat Islam, Ramadhan adalah bulan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan bulan mujahadah (perjuangan). Dalam sejarah umat Islam yang membentang dari zaman Rasulullah saw hingga kini, banyak sekali prestasi ummat yang ditorehkan di pentas bulan suci ini. Mari kita ambil pelajaran berharga dari itu semua.

Masih ingatkah saudara dengan perang Badar? Mengenang Pertempuran Badar, 17 Ramadhan 2 Hijriyah atau 1436 tahun yang silam. 14 sahabat nabi syahid di Badar, 70 musyrik tewas termasuk para pembesarnya, dan 70 musyrik lainnya ditawan oleh Rasulullah shallallahu alayhi wasallam.

Tanpa kemenangan yaum al-furqan yaum al-taqal-jam’an itu, nama Islam, Rasulullah dan peradaban Madinah hanya tinggal namanya saja dalam dongeng sejarah, yang tidak pernah menerangi peradaban manusia sepanjang sejarah oleh cahaya Qur'an dan Sunnah.


Bersyukur kepada Allah, maka marilah kita lanjutkan spirit Badar 313 (merujuk jumlah 313 sahabat Nabi yg ikut dalam pertempuran) untuk berdakwah, meniti jalan Rasulullah saw dan para sahabatnya, menebarkan Rahmat bagi alam semesta.

 


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..


Selanjutnya, sejarah gemilang apa lagi yang terjadi di bulan Ramadhan? Pernahkah saudara pelajari Apa yang kita ingat dari peristiwa 25 Ramadhan 658 H? George Zaidan, sastrawan, sekaligus sejarahwan, yang beragama Kristen Ortodok, dalam novelnya al-Mamluk al-Sariid (1893) bercerita dengan apik; saat itu, di suatu pagi yang cerah Sultan Saifuddin Muzaffar al Quthuz, Mamluk Mesir, berdiri gagah di atas mimbar dan berpidato dengan suara menggelegar;


"Saudara-saudaraku seiman, demi nadi yang berdenyut ini, dan demi Allah yang menggenggam denyut itu, kami menolak menyerah dari Hulagu Khan dan bala tentaranya. Ya kami, tidak akan menyerahkan iman ini jatuh ke tong sampah dan diinjak-injak oleh bangsa Mongol. Meskipun kita tahu, mereka punya segalanya, kuda yang terlatih, panah, tameng, dan manjanik. Tetapi jangan lupakan, kita punya yang tak terkalahkan oleh apapun, ya sebab kita punya Allah, Azza wa Jalla...”


Pidato itu disambut dengan takbir yang bergemuruh bagai ombak laut saat pasang, semangat pasukan pun terbakar, dan seluruh rakyat bersama tentara gabungan dari Mesir, Syam dan Turki bersatu padu demi tegakkan syiar Islam, hingga darah penghabisan. Respon cepat sang Sultan ini diputuskan tidak sampai 24 jam setelah sebelumnya menerima sepucuk surat dari delegasi Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan, yang meminta Mamluk Mesir mencium telapak kakinya. "Pasukan kami, yang bisa meluluh-lantahkan perut bumi dan mengoyak langit negeri manapun memang hanya peduli akan satu hal: meniadakan orang hidup di bawah panji Islam." Begitu salah satu potongan kalimat surat yang dibacanya.


Darah Sang Sultan semakin mendidih, saat surat yang dibaca itu bernada mengintimidasi;
"Anda tentu sudah tahu bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Itu karena, kuda-kuda kami lebih cepat, panah kami lebih tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng kami lebih kuat dari gunung beton. Jika dalam 24 jam Anda tidak mau menyerah diri dari kami, api terpaksa kami nyalakan untuk membumi hanguskan Anda dan wilayah tuan..."


Saat membaca itu Sultan sadar, hanya dalam waktu 40 hari saja Kekhalifahan Abbasiyah yang bertahta selama 500 tahun dengan segala kebesarannya lenyap dan berkeping-keping. 1,8 juta umat muslim di Baghdad dipenggal hidup-hidup dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak. Tua, muda bahkan kanak-kanak. Laki-laki maupun perempuan, hingga janin di dalam kandungan semua dipenggal. Sang Khalifahnya dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Tidak hanya itu, bahkan seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah dalam genggaman Mongol.


Satu-satunya kekuatan tinggal Mamluk Mesir, yang menjadi penopang negeri Hijaz, Syam dan Turkey. Maka tak ada pilihan lain, tentu saja semua dilakukan atas nama ”mempertahanan negeri dan iman”. Keperkasaan militer—biarpun dengan seberapapun kokohnya yang tersirat di dalamnya— tak menggentarkan bagi Sang Sultan dan rakyat yang di dasanya masih tertinggal iman.


"Demi Islam, demi Iman, demi Kebenaran.." Teriak rakyat Mesir di sepanjang jalan menuju medan perang di Ain jalut. Saat itu Pasukan Mamluk dipimpin sendiri oleh Sultan Quthuz, dan dibantu Jendral Baibars, sementara kubu Mongol dipimpin Panglima Qitbuka Noyan, tangan kanan Hulagu Khan.


Pada akhirnya, mereka yang angkuh. Mereka yang diremehkan, muncul sebagai penantang dan kekuatan yang tak terbayangkan. Medan juang Ain jalut seperti mendapat hujan air merah, dari bercak darah manusia. Ratusan ribu tentara Mongol terbujur kaku dengan potongan-potongan tubuh yang tak utuh, termasuk sang Jendral Qitbuka Noyan dan keadilan untuk sementara waktu tegak dan pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani dan panji-panji Islam kembali ditegakkan. Salah satu kunci kemenangan itu menurut George Zaidan, adalah moral dan spiritual.


Moral adalah upaya negosiasi untuk tidak saling menumpahkan darah, tetapi hidup indah dibawah atap persaudaraan, kerukunan dan perdamaian. Karena perang akan merusak semuanya, kota dan kampung-kampung ditinggalkan dan pelan-pelan rubuh, tetapi jika tantangan dan ancaman sudah dipasungkan, tidak ada jalan lain kecuali bertahan. Dan, masa lalu memang memberikan warisan nilai-nilai, selain juga sederet panjang tanda tanya. Tetapi satu hal yang tak boleh lupa, Ramadhan adalah bulan perjuangan.

 


Kaum Muslimin rahimakumullah..


Sejarah telah membuktikan bahwa kemenangan ummat Islam dalam menumpas kezaliman selalu terjadi manakala Iman dan Islam membuncah di dalam dada kaum muslimin, meskipun secara jumlah personel, persenjataan, logistik, kekuatan ekonomi dan iptek umat Islam saat itu masih minim, sehingga kerap kali diremehkan dipandang sebelah mata oleh gerombolan musuh. Sebaliknya, kekalahan demi kekalahan umat Islam yang sangat memilukan dan menyakitkan terjadi manakala keimanan kita lemah, jiwa kita rapuh, dan mental juang kita keropos akibat satu penyakit mematikan, yaitu al-wahan: cinta dunia dan takut mati.


Meskipun pada saat itu jumlah personel, kekuatan persenjataan, pasokan logistik, dan kekuatan ekonomi dan iptek umat Islam dalam kondisi yang prima. Lihatlah bagaimana kekuatan militer dan ekonomi kerajaan dan kekhalifahan Muslim tak sanggup menahan serangan tentara Salib pada tahun 1099 M, dan akhirnya gagal mempertahankan Kota Suci al-Quds/Jerussalem.


Lihatlah juga bagaimana peradaban Islam harus tumbang di Andalusia Spanyol pada tahun 1492 M, setelah gagah perkasa berkuasa lebih dari 7 abad lamanya. Tidakkah saudara mendengar dan melihat bagaimana pada tanggal 5 Juni 1967 tepat 50 tahun silam gerombolan Zionis berhasil merampok dan memperkosa kesucian Masjid al-Aqsha, Baitul Maqdis, Bethlehem atau Jerussalem Timur. Hanya dalam waktu singkat, enam hari.


Peristiwa memalukan itu dikenal sebagai Perang Enam Hari Arab-Israel. Umat Islam dan Negara Arab saat itu tidak miskin amat, tidak bodoh amat, tidak juga terbelakang amat. Militer Mesir dan Suriah dibanggakan sebagai yang terkuat di Timur Tengah, ditambah sokongan aliansi Uni Soviet sekutu utama Arab saat itu. Tapi penyebab utama kekalahan Bangsa Arab dan Islam dari gerombolan perompak biadab Zionis adalah karena elit politiknya mengidap penyakit wahan, Cinta dunia dan takut mati. Tragisnya lagi di saat yang bersamaan, mereka memusuhi dan memberangus gerakan Islam yang bertekad ingin kembalikan izzul Islam wal Muslimin.


Maka ambillah pelajaran wahai ulul albab, jika kita ingin merebut kembali izzah Islam dan muslimin, bertekad memerdekakan Baitul Maqdis di akhir zaman ini, ingin menyatukan kaum muslimin di bawah panji-panji Islam, maka formulanya hanya satu: lakukan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dan kembalikan manhaj Qur’an sebagai rujukan dan panglima dalam semua aspek kehidupan muslim.


Maha Benar Allah ta’ala dalam firman-Nya ketika mengabarkan:

14. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)
15. dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang
16. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi
17. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal Nashrun minallah wa fathun qoriib.

 


Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia..
Jangan pernah kita ucapkan selamat tinggal kepada bulan Ramadhan. Sebab Ramadhan bukanlah sekedar bulan, melainkan metode merubah pola hidup dan awal memulai perubahan.
Jangan kalian ucapkan selamat tinggal kepada Ramadhan, akan tetapi berikan untuknya ruang agar dia selalu hidup bersamamu, dan engkau hidup bersamanya sepanjang tahun.
Berjanjilah dalam hati kita yang terdalam: Puasa tidak akan berakhir, al-Qur’an tidak akan ditinggalkan, dan Qiyamullail tidak akan dilalaikan. Siapa yang menyembah Ramadhan sungguh dia hari kemarin telah usai. Namun siapa yang menyembah Tuhannya Ramadhan, sungguh Dia tetap hidup abadi selamanya.
Imam Attirmidzy meriwayatkan, dari Aisyah RA beliau berkata; aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ayat ini: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka", (al-Mukminun: 60) apakah mereka orang-orang yang minum khamr dan mencuri?


Nabi menjawab : Tidak wahai puteri ash-Shiddiq, tetapi mereka adalah orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah, namun mereka khawatir tidak diterima amal mereka, Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (al-Mukminun: 61)

 

Ali bin Abi thalib berkata: "Hendaklah kalian lebih memperhatikan diterimanya amal, daripada hanya memperhatikan amalnya saja"


Abdullah bin Mas'ud berkata: Siapakah yang maqbul amalnya, untuk kita berikan selamat?
Siapakah yang tertolak amalnya, untuk kita bertakziyah? Wahai yang diterima amalnya, selamat untukmu. Wahai yang ditolak amalnya, semoga Allah ringankan musibahmu.
Mari Ramadhankan hidup kita. Mari kembalikan narasi hidup kita kepada fitrahnya, yaitu kembali kepada sistem akidah dan syariah Islam dalam semua aspek kehidupan. Dengan itulah kita semua akan selamat dari segala macam bentuk kerusakan dan akan menikmati kehidupan yang dipenuhi kebaikan, keadilan, kesejahteraan dan berkah dari Allah, Tuhan semesta alam.


Allah SWT berfirman, “Dan sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya kami akan buka untuk mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi, namun mereka telah mendustakannya sehinggka kami siksa mereka akibat dosa yang mereka perbuat” (Q.s. Al-A’raf: 96)


Semoga kita semua kembali kepada fitrah Tauhid di hari kemenangan sejati, dengan menjadikan takwa kepada Allah sebagai sarana untuk mematuhi semua aturan Ilahi dalam seluruh sendi kehidupan kita selaku hamba Allah. Semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah SWT. Amiin.

 


Kaum muslimin yang berbahagia,


Akhirnya, marilah kita semua menundukkan hati dengan penuh harap kepada Allah, memanjatkan doa kepadaNya, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, tempat semua keluhkesah disampaikan, tempat semua  masalah mendapat jalan keluar. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Sang Rasul tercinta, para keluarga dan sahabatnya, manusia-manusia terbaik yang pernah terlahir.

 

 

*) Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

 

Naskah lengkap Khutbah ini dapat diunduh DI SINI


Tags: AL-QUR’ANDANPETAJALANKEBANGKITANUMMAT , KhutbahIdulFitri
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori : Khutbah Idul Fitri

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website