cool hit counter

Majelis Tabligh - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Tabligh
.: Home > Artikel

Homepage

Muqadimah Risalah Islam - K.H. Suprapto Ibnu Juraimi

.: Home > Artikel > Majelis
25 Agustus 2013 09:50 WIB
Dibaca: 2835
Penulis :

Muqadimah Risalah Islam[1]

K.H. Suprapto Ibnu Juraimi

 

 

Setelah melihat tantangan dakwah di kota Makkah, Rasulullah Muhammad Saw. seperti menghadapi sebuah tembok raksasa yang tidak mudah didobrak, untuk menyeru penduduk Makkah kepada dakwahnya. Tetapi Rasulullah tidak patah semangat, lalu mengalihkan sasaran dakwahnya ke Thaif. Beliau berangkat ke kota Thaif didampingi oleh Sahabat Zaid, anak angkat beliau (yang sebelumnya seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh Rasulullah, hadiah pernikahannya dengan Khadijah). Berdua mereka berangkat menuju ke kota Thaif. Dalam Sirah Nabi, perjalanan ini disebut dengan Hijrah Dakwah yang Pertama yang dilakukan oleh Rasulullah.

 

Kedatangan beliau ke Thaif ini bukan karena diundang, bukan karena ditunggu, maupun karena diharap-harap oleh penduduk Thaif. Perjalanan itu dilakukan semata karena amanah dakwah yang dipikul oleh Rasulullah. Namun, ternyata maksud perjalanan itu telah tercium oleh Abu Jahal sebelum keberangkatan Rasulullah. Abu Jahal segera mengontak kawan-kawannya di Thaif untuk menghalang-halangi niat dakwah Rasulullah di sana.

 

Sesampai di Thaif, di sana sudah siap menunggu sejumlah ‘preman’, ‘anak-anak jalanan’, yang siap dengan lemparan batu menyongsong kedatangan Rasulullah. Belum sempat menyampaikan seruan dakwah, Rasulullah malah disambut dengan lemparan batu. Sahabat Zaid berusaha melindungi Rasulullah dari sasaran lemparan batu. Ia membentengi Rasulullah dengan tubuhnya sendiri. Namun, karena banyaknya lemparan batu itu, Rasulullah terkena juga sampai luka berdarah. Akhirnya, Rasulullah meninggalkan kota Thaif.

Inilah pengalaman pertama Rasulullah berdakwah ke luar wilayah Makkah yang disambut dengan reaksi keras berupa lemparan batu. Dengan kesabaran dan kesadarannya, akhirnya Rasulullah bersama Sahabat Zaid meninggalkan kota Thaif sebelum sempat menyampaikan risalah dakwahnya.

***

 

Peristiwa ini mengilhami Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kedatangan kami ke Dompu ini bukan karena diharap-harap atau dinanti-nanti. Kalau kami harus menunggu undangan dari PDM belum tentu akan ada. Kami dari Majelis Tabligh membuat terobosan ini sejak Muktamar Banda Aceh (periode 1995-2000). Terobosan untuk tidak menunggu bola, tetapi menjemput bola. Bahkan bisa dikatakan menerobos dan menyerbu bola. Sebab, kalau menjemput bola hanya sampai tingkat Wilayah saja sedang program ini mencakup sampai ke Daerah, karena ternyata banyak Wilayah yang kurang menangani Daerah. Kami buat surat, pertama kali yang kami surati adalah delapan PDM di Jawa Tengah. Dalam surat itu disebutkan bahwa PDM tersebut diminta menyiapkan suatu acara pada tanggal tertentu, dan akan Majelis Tabligh akan datang pada waktu itu. Surat balasan tidak ditunggu. Dan ketika akan berangkat baru 2 PDM yang menjawab bersedia. Namun, kenyataannya semua PDM tersebut siap menyambut kedatangan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan siap menyelenggarakan acara tersebut.

 

Alhamdulillah, sampai saat ini (sekitar tahun 2002-an; ed) sudah 225 PDM di pulau Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, sebagian wilayah Sumatera, separo Bali dan NTB. Dari 225 PDM tadi 4 PDM yang gagal melaksanakan acara Rihlah Dakwah ini, yakni PDM Pesisir Selatan di Sumatera Barat, PDM Lumajang, PDM Tangerang dan PDM Jepara. Alasannya macam-macam, diantaranya suratnya sudah sampai di kantor, tapi kantornya jarang didatangi. Di Jepara, surat dari kami sudah diterima, tetapi oleh karyawan tidak diserahkan kepada pimpinan PDM karena rumah pimpinannya jauh dari kantor PDM. Tapi ini bisa dimaklumi karena di daerah tersebut Muhammadiyah belum begitu kuat.

***

Kembali ke masalah dakwah Rasulullah ke Thaif. Ketika akhirnya harus meninggalkan kota Thaif tanpa sempat menyampaikan risalah dakwahnya, Rasulullah Muhammad Saw. terus berjalan. Di tengah perjalanan beliau ditemui oleh malaikat Jibril. Ada yang tidak seperti biasanya dari perilaku Jibril ini. Melihat Rasulullah diperlakukan demikian oleh penduduk Thaif, Jibril marah dan menawarkan kepada Rasulullah, kalau Rasulullah menghendaki, dua gunung yang mengapit kota Thaif akan dipertemukannya untuk melumatkan penduduk Thaif.

 

Rasulullah menolak tawaran malaikat Jibril itu. Kata Rasul, “Aku tidak apa-apa. Mereka anak-anak muda yang belum tahu tentang Islam”. Dalam hal ini kita menemukan pribadi Rasulullah dengan satu akhlak yang luhur. Tidak terbersit di hatinya untuk membalas dendam, walaupun ada kesempatan yang sangat mudah untuk membalas dendam dengan bantuan Malaikat Jibril. Dan, di dalam ajaran Islam, memang tidak ada kamusnya istilah balas dendam.

 

Setelah menolak tawaran Jibril, Rasulullah meneruskan berjalan. Dalam perjalanan itu beliau menemui sebuah rumah besar dan tinggi. Rasulullah berhenti dan bersandar di pagar rumah tersebut, melepas lelah sambil menahan rasa sakit akibat lemparan batu.

 

Kebetulan, yang punya rumah tersebut adalah seorang ahli kitab. Karena dia beragama, dia punya rasa kasihan melihat ada orang yang sepertinya teraniaya dengan tubuh luka berdarah dan tampak seperti habis menempuh perjalanan yang berat. Lalu pendeta ahli kitab tersebut menyuruh budaknya untuk memberi sekedar makanan.

 

Sang budak mendatangi Nabi dan memberikan makanan seperti diperintahkan pendeta tuannya. Rasulullah mengucapkan terima kasih. Ketika hendak menyantap makanan tersebut, Rasulullah mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”.

 

Sang budak terkejut, baru sekali itu dalam sejarah hidupnya ia mendengar kata yang indah sekali diucapkan oleh seseorang, “Bismillahirrahmanirrahim”. Sang budak lalu menanyakan identitas Rasulullah. “Anda ini siapa?” tanya budak tersebut. Dijawab oleh Rasulullah dengan jujur, “Saya Muhammad, utusan Allah”. Kontan sang budak yang bernama Addas itu kemudian menyatakan syahadat masuk agama Islam. Dalam hal ini, kita bisa melihat betapa akhlak keteladanan Rasulullah yang dengan bahasa yang indah, cukup mengucapkan kata “Bismillahirrahmanirrahim” telah dapat mengislamkan orang.

***

Ketika kami bicarakan kegiatan ini pada tahun 1997, saat kami mulai melangkah, kami bicarakan apa nama kegiatan ini. Pada jaman dulu, kegiatan semacam ini diberi nama dengan istilah “turne”. Namun untuk jaman sekarang, istilah tersebut konotasinya sekuler. Ada yang mengusulkan istilah lain, safari. Tapi istilah safari ini sudah terlanjur akrab di telinga banyak orang menjadi istilah yang sering dipakai oleh Golkar, Orde Baru. Lalu kami ingat satu istilah di dalam Alquran, “rihlatasy-syita’i wash-shaif”, sehingga kami namakan kegiatan ini dengan istilah Rihlah Dakwah.

 

Rihlah Dakwah adalah pengajian intensif yang menggunakan pendekatan spiritual, intelektual dan amal. Diikuti oleh seluruh aktivis pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan baik pimpinan persyarikatan, Majelis, Badan, Lembaga, dan Ortom, khususnya anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus.

 

Idealnya, pengajian ini dimulai pada pukul 4 sore dan berakhir sekitar pukul 6 pagi keesokan harinya, dengan menginap. Rangkaian acara pengajian ini dimulai dengan tadarus Alquran selama satu jam, kemudian istirahat. Dilanjutkan lagi pada pukul 8 malam dengan acara “Pembajaan Diri”. Kemudian diteruskan dengan materi “Pelajaran Kiyai Ahmad Dahlan”. Rangkaian acara malam ini ditutup dengan istirahat total, tidur, sampai pukul 3 dinihari. Pukul setengah empat dinihari bangun lagi, dilanjutkan dengan materi “Pembajaan Diri” dalam bentuk praktek ibadah tengah malam, yaitu shalat tahajud (shalatullail) sampai menjelang waktu shubuh. Setelah shalat shubuh dilanjutkan dengan materi terakhir sampai pukul 6 pagi.

 

Menengok Sejarah

Ketika Rasulullah melaksanakan ibadah haji Wada menjelang beliau wafat, pada saat sedang berkhutbah di padang Arafah, turun ayat yang terakhir yang dimuat dalam surat Al-Maidah, “Alyawma akmaltu lakum diinakum wa-atmamtu alaykum ni’matii wa-radhiitu lakumul islmaama diinaa”.

 

Begitu ayat ini dibacakan oleh Rasulullah pada saat berkhutbah itu, Abu Bakar yang berada di dekat Rasulullah serta merta meneteskan air mata. Abu Bakar tanggap betul dengan adanya ayat ini, berarti tugas Rasulullah sudah selesai, dan dengan selesainya tugas tersebut tentunya Nabi akan segera dipanggil ke hadirat Allah. Betapa tidak Abu Bakar akan menangis, karena manusia satu-satunya yang berhak untuk dicintai dan diimani itu hanya Rasulullah, di atas segala-galanya dalam hal sesama manusia.

 

Haji Wada’ yang sering diartikan sebagai haji pamitan atau perpisahan, adalah haji yang pertama dan terakhir kali dilakukan oleh Rasulullah. Hanya sekali itu Rasulullah melaksanakan ibadah haji. Jumlah jamaah haji yang hadir ke Baitullah ketika itu adalah yang terbesar jumlahnya sepanjang jaman hidup Rasulullah, sekitar 140 ribu jamaah banyaknya. Lebih kurang 100 ribu jamaah berasal dari Madinah yang langsung dipimpin oleh Rasulullah sendiri, sisanya lebih kurang 40 ribu jamaah berasal dari berbagai pelosok jazirah Arab. Begitu banyaknya jamaah yang beribadah haji pada saat itu, barangkali karena baru sekali itu ummat Islam dapat beribadah haji bersama-sama Rasulullah. Bagaimanapun, orang ingin merasakan nikmatnya beribadah bersama dengan Rasulullah.

 

Pelaksanaan ibadah haji Rasulullah yang hanya sekali itu mengisyaratkan pemahaman supaya tidak muncul di masyarakat bahwa beribadah haji 3 sampai 4 kali itu lebih afdhal. Ibadah haji cukup sekali, sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah. Kecuali umrah memang bisa dilaksanakan berkali-kali. Rasulullah sendiri pernah melaksanakan ibadah umrah sebanyak 4 kali sepanjang hidupnya.

 

Ketika diselenggarakan kegiatan Darul Arqam di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Pak AR sebagai penceramah dan kebetulan saya menjadi pemandunya, memberikan komentar tentang ibadah Haji Wada’ ini. Menurut ilmu kira-kiranya Pak AR, sekiranya setiap anggota jamaah haji yang berjumlah 140 ribu itu masing-masing mempunyai 5 orang anggota keluarga, maka jumlah umat Islam ketika itu ada sekitar 700 ribu orang. Bila ditambah dengan jumlah umat Islam yang tidak pergi beribadah haji, karena tidak tahu kalau Rasulullah beribadah haji (karena saat itu belum ada alat komunikasi yang secanggih sekarang seperti radio, televisi, dan handphone), jumlah ummat Islam saat itu diperkirakan mencapai 1 juta orang. Inilah kuantitas ummat Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah selama kurang dari seperempat abad.

 

Ayat yang dibacakan oleh Rasulullah tadi adalah statemen Allah yang menyatakan bahwa agama Islam yang dibawa Muhammad telah sempurna. Konsekuensi logisnya, agama ini harus sanggup memberi jalan tuntunan hidup di sepanjang masa baik di masa Rasulullah sendiri (yang telah berhasil dibuktikan oleh sejarah), juga dituntut di jaman sesudahnya hingga sekarang ini, bahkan sampai di akhir jaman nanti.

 

Inilah konsekuensi logis kesempurnaan Islam yang berupa Risalah Islamiyah, pesan-pesan Allah yang secara runtut dimulai dari periode perintis (yang dirintis sendiri oleh Rasulullah), dilanjutkan dengan periode pendobrak, periode pelaksanaan, periode pelanjut sampai berhasilnya revolusi, semua periode itu dilaksanakan dan dialami sendiri oleh Rasulullah, sehingga Rasulullah bisa menikmati hasil revolusi yang dilaksanakan itu. Hanya sekali terjadi dalam sejarah hidup manusia sebuah revolusi, dari tahapan periode perintisannya sampai selesainya dan hasilnya bisa dinikmati secara langsung oleh pelaku sejarahnya sendiri  itu. Itu hanya ada pada revolusi Islam yang dipimpin oleh Rasulullah.

 

Revolusi Indonesia adalah menyingkirkan penjajah selama kurun waktu kurang lebih 350 tahun sampai proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Tetapi Bung Karno sendiri, pada awal tahun 1960-an, masih menyatakan bahwa revolusi Indonesia belum selesai. Kalau dibuka kembali sejarah dapat dilihat berapa tahun revolusi Prancis selesai. Dan selesainya itu pun dapat dikatakan selesai yang bukan berhasil.

***

Kalimat berikutnya dalam firman Allah yang terakhir diturunkan kepada Rasulullah pada saat haji Wada’ itu, “Wa-atmamtu lakum nikmatii” (dan telah aku cukupkan nikmat-Ku), dalam salah satu tafsir diungkap bahwa yang dimaksud dengan nikmat yang cukup itu adalah proses kemenangan demi kemenangan peperangan yang diselenggarakan Rasulullah sehingga Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan Islam. Ini memberi isyarat bahwa tegaknya Islam itu dituntut dengan perjuangan dan pengorbanan.

 

Dalam skala kecil, kedatangan kami ke Dompu ini pun ada unsur perjuangannya, meninggalkan keluarga, payah dalam perjalanan, dan sebagainya. Jika kita menginginkan tegaknya tatanan hidup Islam, perlu kita perhatikan kalimat kedua dalam ayat tersebut. Kalau sudah dirasakan nikmat, maka “Wa-radhitu lakumul Islaama diinaa”, Allah meridhai Islam sebagai agamanya, agama kita. Maka kita harus puas. Makna “wa-radhitu” yang tepat adalah “aku telah puas bertuhankan Allah, puas beragama Islam dan puas bernabikan Muhammad”.

 

Kalau sudah merasa puas lalu apa? Kalau sudah puas tentu tidak perlu yang lain, tidak butuh paham hidup yang lain, ajaran tatanan hidup yang lain, apalagi tatanan hidup buatan manusia yang dalam kenyataan sejarah telah membuat malapetaka, baik itu kapitalisme, kominisme maupun sosialisme. Di sinilah, Islam dituntut sanggup apa tidak menjawab setiap tantangan itu. Inilah sekilas dari makna Risalah Islam.

 

Pak AR, ketika itu (tahun 1983) juga mengomentari, dengan tidak mengecilkan arti dan peran Rasulullah, bahwa Rasulullah ‘hanya’ mengislamkan 1 juta orang. Sekali lagi dengan tidak mengecilkan arti dan peran Rasulullah, yang dihadapi Muhammadiyah sekarang ini setidaknya adalah 200 juta umat manusia. Maksud Pak AR, tanggung jawab yang dipikul oleh Muhammadiyah, termasuk Muhammadiyah Dompu, adalah sangat besar, yaitu tanggung jawab dan amanah dakwah lewat organisasi Muhammadiyah.

 

Mengambil pelajaran dari Rasulullah, ternyata, untuk mengislamkan 1 juta orang di jaman Rasulullah itu diperlukan orang-orang yang paling berkualitas. Tidak pernah ada sebelum itu dan barangkali tidak akan pernah ada lagi sesudah itu. Itulah asrofil mursalin, insan kamil, Rasulullah Muhammad Saw. Yang ada di kanan kiri beliau, ada 10 sahabat besar Nabi yang telah dijamin masuk surga sebelum mereka meninggal dunia. Mereka, antara lain adalah Khulafaurrasyidin (Abu Bakar Ash-shiddiq, Umar Ibnu Khattab, Utsman ibnu Affan, dan Ali bin Abi Thalib), Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Saad ibnu Abi Waqash. Mereka adalah para sahabat yang ketika hidupnya sudah dijanjikan oleh Allah lewat Rasulullah sebagai ahli surga.

 

Diantara 10 sahabat besar Nabi itu, yang perlu saya angkat dalam kesempatan ini adalah Umar bin Khattab. Rasulullah Saw. pernah berkata, “Sekiranya ada nabi sesudahku, Umar-lah nabinya”. Dalam satu peperangan ketika pasukan Islam mendapatkan tawanan perang yang banyak, oleh Rasulullah dan para sahabat yang lain sepakat bahwa tawanan tadi bisa bebas dengan syarat memberikan tebusan. Diantara tebusannya adalah mengajari membaca. Ketika diputuskan demikian, Umar yang kurang sepakat dengan keputusan itu mendekati Rasulullah dan bertanya, “Rasulullah, keputusan ini merupakan pendapat Rasulullah atau berdasarkan wahyu?” Jawab Rasulullah, “Ini pendapat saya”. “Kalau itu pendapat Rasulullah, saya punya pendapat berbeda, kata Umar, “kalau menurut saya, bunuh semua tawanan itu”. Disebutkan dalam surat satu ayat Alquran bahwa Allah membenarkan pendapat Umar ini daripada keputusan Rasulullah dan para sahabat. Namun hal ini jangan diartikan kalau Nabi disalahkan Allah, jangan diartikan begitu.

 

Ketika Umar menjadi khalifah, suatu saat ia berkhutbah di Madinah. Tiba-tiba hadirin dibuat terkejut karena Umar yang sedang berkhutbah, tiba-tiba berteriak keras sekali seperti sedang memberi komando kepada pasukan di medan perang. “Lari ke gunung…!!” kata Umar. Ternyata diketahui, saat itu pasukan umat Islam sedang terjepit di medan perang, dan Umar memberikan komando, perintah untuk menyelamatkan diri. Anehnya, pasukan perang umat Islam di medan tempur itu mendengar perintah atau komando dari Umar bin Khattab tersebut. Padahal, jarak antara masjid tempat berkhutbah dengan lokasi perang sangat jauh. Inilah diantara keistimewaan sahabat Umar bin Khattab yang telah dijamin masuk surga sebelum meninggal dunia.

 

Selain 10 sahabat besar yang berada di kanan-kiri Nabi, ada sekitar 60 orang sahabat besar lainnya yang mengelilingi Nabi yang memiliki kelebihan-kelebihan. Mereka diabadikan dalam sejarah. Diantara mereka adalah Abu Hurairah, seorang sahabat ahli hadis terbesar periwayat hadis terbesar yang tidak ada tandingannya; Abu Dzar Al-Ghifari, ahli unjuk rasa; Abu Darda’, bapaknya kaum sufi; Salman Al-Farisi yang ahli strategi perang; Khalid bin Walid yang mendapat gelar Syaifullah, juga nama-nama lain yang masing-masing memiliki kebesaran dan kelebihan sendiri-sendiri. 60 orang sahabat yang melingkungi Rasulullah ini diabadikan dalam sejarah dalam kitab Ar-Rijalu khaular-Rasul, yang sudah diterjemahkan.

 

Selain dua kelompok di atas, ada satu kelompok lagi, yang bisa disebut sebagai “pasukan khusus”nya Rasulullah, mereka berjumlah sekitar 70 orang. Sebagian besar mereka adalah mantan Muhajirin. Mereka telah mewakafkan dirinya untuk Islam. Mereka rela meninggalkan kenikmatan hidup yang telah pernah mereka rasakan sebelumnya, mereka rela mengorbankan segala-galanya, meninggalkan segala sumber penghidupan, yang sekarang ini justru malah diburu oleh setiap orang. Mereka dulunya adalah orang-orang kaya yang rela meninggalkan ladang gandumnya, kebun kurma, kebun anggur, ternak unta, barang-barang dagangannya, dan sebagainya, semua kekayaan duniawi itu ditinggalkan dengan suka rela. Bahkan anak, istri dan orang tua tercinta  pun ditinggalkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah. Karena mementingkan sabilillah, mereka tidak sempat lagi memikirkan urusan keduniaan.

 

Tidak tanggung-tanggung, di dalam Alquran, Allah menyebut peristiwa hijrah dan kaum muhajirin ini tidak kurang 30 ayat. Inilah kelompok khusus yang diabadikan Allah dalam surat Al-Baqarah: 273. Mereka disifati Allah sebagai orang-orang yang dibatasi hidupnya di jalan Allah, sabilillah (Al-ladziina ukhsiruu fii sabiilillah). Hidup mereka hanya semata-mata untuk mencari ridha Allah.

 

Yang menarik, orang-orang di Madinah mengira mereka adalah orang-orang kaya karena tidak pernah mau meminta-minta. Mereka tidak mau membuat orang menjadi kasihan kepada mereka untuk mengulurkan tangan. Kalau lapar melilit, ikat pinggang dieratkan ikatannya untuk menghilangkan rasa lapar. Mereka mencukupkan diri untuk hidup hanya dari hasil rampasan perang.

 

Di Madinah, ke-70 orang sahabat tersebut tinggal di emper masjid Nabawi. Dalam bahasa Arab emper masjid ini disebut “suffah”, sehingga mereka disebut sebagai Ahli Suffah.

 

Ahli Suffahini bukan ahli sufi, berbeda, sebab akar katanya berbeda, demikian juga watak pembawaannya. Orang sufi yang kalau berkelompok menjadi kaum tariqah, mereka meninggalkan nikmat hidup, tidak mau makan mewah, pakaian sederhana, malam hari mencucurkan air mata, tetapi pada siang hari ketika tetangganya saling bertengkar tidak mau tahu, ketika ada sekelompok pemuda mabuk-mabukan tidak digubris. Mereka hanya mau enaknya sendiri, mencari keselamatan sendiri, tidak ada rasa kepekaan sosial, apalagi kepekaan untuk beramar makruf nahi munkar.

 

Sedang Ahli Suffah, mereka memang meninggalkan semua kenikmatan hidup, dan yang mereka tinggalkan itu juga tidak tanggung-tanggung, yang bagi orang sekarang tentu tidak ketemu nalar. Kita tidak akan sanggup membayangkan. Malam hari mereka bercucuran air mata, siang hari mereka bertabligh, mengajar anak-anak. Jika ada komando untuk jihad ke medan perang, Ahli Suffah yang masih berusia muda segera bergegas-gegas berangkat, meminjam  peralatan perang dan segera maju ke medan perang. Peralatan perang itu mereka pinjam dari orang lain karena tidak punya sendiri, sehingga kalau mendapatkan pampasan perang, harta pampasan bagiannya lalu dibagi dengan pemilik peralatan itu.

 

Ahli Suffah selalu menunggu-nunggu saat-saat seperti ini. Mereka tahu persis bahwa kematian yang paling mulia adalah sebagai syuhada, sehingga mereka sangat ingin untuk bisa mati sebagai syuhada.

 

Para Ahli Suffah yang berusia lanjut sebenarnya juga menginginkan dapat ikut terjun ke medan perang ketika ada panggilan untuk berjihad. Tetapi karena kondisi mereka yang sudah tidak memungkinkan mereka hanya sanggup untuk mengangkat tangan, berdoa. Rasulullah sangat menghargai dan menghormati mereka, sampai-sampai dalam satu perjalanan pulang dari medan perang Rasulullah menyatakan bahwa ada sekelompok orang yang mereka itu tidak ikut naik kuda, tidak ikut berperang dengan senjata, dan tidak ikut berangkat ke medan perang, tapi kedudukan mereka dimata Allah tidak kalah dengan para sahabat yang masih mampu untuk ikut terjun ke medan perang. Yang dimaksud oleh Rasulullah adalah Ahli Suffah yang sudah udzur yang sudah tidak sanggup lagi berjuang dengan senjata.

 

Kalau kita cermati, kita bisa berkesimpulan bahwa keberhasilan Rasulullah, mulai dari proses Nabi dilempari batu di Thaif, lalu ditawari Jibril untuk membalas tapi Rasulullah menolak, kemudian mengislamkan seorang budak karena mendengar Rasulullah mengucapkan basmalah ketika hendak makan, semua keberhasilan itu disebabkan oleh sifat keteladanan atau uswah khasanah. Dan memang, di antara metoda dakwah yang sangat menonjol adalah dengan keteladanan atau uswah khasanah ini.

 

Pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan, pada suatu kesempatan pernah naik kereta api duduk berdampingan dengan orang besar yang berasal dari tanah Arab Sudan, yakni R. Surkati. Beliau adalah pendiri Al-Irsyad, organisasinya orang-orang Islam di Indonesia keturunan Arab. Dengan memandang sekilas raut wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan, R. Surkati mengetahui adanya sinar kejujuran yang memancar dari wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

 

Ketika AR Sutan Mansur, sebelum masuk Muhamamdiyah menyaksikan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan di Pekajangan Pekalongan, beliau juga mempunyai kesaksian yang sama, tentang keteladanan Kyai Haji Ahmad Dahlan ini. Dari sekilas menyaksikan Kyai Haji Ahmad Dahlan memberikan pengajian di Pekajangan itu, Buya AR Sutan Mansur bisa mengambil kesimpulan bahwa Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah pribadi yang jujur dan bisa diteladani.

 

Tetapi rupanya Buya AR Sutan Mansur ini tidak merasa puas mengetahui perihal Kyai Dahlan hanya sampai di situ. Beliau lalu membuntuti Kyai Dahlan ketika pulang ke Jogja. Sesampai di Jogja, Sutan Mansur bertanya kepada orang di masjid mana Kyai Dahlan biasanya pergi menunaikan shalat. Buya AR Sutan Mansur ingin membuktikan sendiri bagaimana shalat shubuhnya Kyai Dahlan. Apalagi ketika berceramah di Pekajangan itu Kyai Dahlan mengaku sebagai seorang ketua organisasi Islam yang bernama Muhammadiyah. Sutan Mansur datang ke masjid itu 30 menit sebelum waktu Shubuh, ternyata Kyai Dahlan sudah berada di masjid itu. Barulah dia yakin, Kyai Haji Ahmad Dahlan memang pribadi yang pantas diteladani.

***

Di Indonesia, Islam pernah berkembang oleh adanya sosok Kyai Haji Ahmad Dahlan yang mendakwahkan Islam dengan keteladanannya. Selain itu, berkat jasa Buya AR Sutan Mansur, Muhammadiyah sampai sekarang ini tersebar cukup pesat di berbagai penjuru nusantara, terlebih-lebih di Sumatera. Sebab orang minang ini terkenal sebagai orang yang suka merantau. Sambil berdagang, mereka juga berdakwah.

 

Selain Buya AR Sutan Mansur, ada juga Buya Hamka, yang bertahun-tahun tinggal di Sulawesi mengembangkan Muhammadiyah di sana, sehingga sampai saat ini Muhammadiyah berkembang sangat kuat dan kental di wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Saat ini di Sulawesi Selatan telah berdiri perguruan tinggi Muhammadiyah, rumah sakit dan panti asuhan yang jumlahnya tidak sedikit. Inilah sekedar contoh buah dari dakwah Islam yang menggunakan keteladanan.

 

Lain lagi ceritanya tentang Pak AR. Beliau juga termasuk tokoh yang melakukan dakwah dengan keteladanannya. Pak AR adalah satu-satunya seorang ketua PP Muhammadiyah yang sampai akhir hayatnya tidak memiliki rumah pribadi. Hidup dengan sangat sederhana, dan segala kekuatan yang beliau miliki disumbangkan sepenuhnya uintuk dakwah Islam. Seluruh tenaga, ilmu bahkan hartanya yang tidak seberapa digunakannya untuk kepentingan Islam.

 

Pak AR, saya sebut adalah orang yang paling zuhud. Kalau beliau diminta ceramah di suatu tempat dan mendapatkan amplop, biasanya uang isinya amplop diberikan kepada karyawan kantor PP Muhammadiyah yang beliau anggap lebih membutuhkan.

 

Suatu kali Pak AR sakit mata dan harus melakukan operasi katarak. Biasanya PP Muhammadiyah memberikan fasilitas pengobatan gratis kepada para pimpinan Muhammadiyah. Di Jogja di RSU PKU Muhammadiyah Jogjakarta, dan di Jakarta biasanya di Rumah Sakit Islam Jakarta. Pak AR tidak ingin PP Muhammadiyah tahu tentang rencana operasinya, beliau tidak ingin diberi fasilitas pengobatan gratis. Tetapi sebuah kelompok pengajian kecil di dekat rumah Pak AR mengetahui kalau Pak AR harus berobat. Kelompok pengajian yang dibina Pak AR ini juga tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Pak AR yang mengandalkan gaji pensiun sebagai pegawai penerangan Depag Jawa Tengah yang hanya 80 ribu rupiah.

 

Kelompok pengajian kecil ini lalu mengumpulkan uang dari anggota jamaahnya sehingga terkumpul 600 ribu rupiah dan uang itu kemudian diserahkan kepada Pak AR untuk biaya operasi tersebut.

 

Ketika sehabis operasi, pengurus kelompok pengajian tadi diundang Pak AR, beliau mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka sambil menyerahkan bingkisan kepada kelompok pengajian tersebut. Setelah bingkisan dibuka oleh pengurus kelompok pengajian tersebut, ternyata isinya uang 300 ribu. Uang tersebut adalah sisa biaya operasi bantuan dari kelompok pengajian tersebut. Pak AR mengembalikan sisanya karena biaya operasinya hanya 300 ribu, sekalipun kelompok pengajian tersebut menyatakan telah ikhlas menyerahkan semua uang tersebut kepada Pak AR. Inilah contoh keteladanan dari Pak AR.

 

Memperhatikan contoh-contoh keteladanan tersebut, lalu kita menjadi bertanya-tanya, siapa tokoh-tokoh Muhammadiyah di sekitar kita saat ini yang memiliki sifat-sifat keteladanan yang demikian. Maka kita akan kesulitan menemukannya.

 

Yang kedua, di atas saya menyebut tentang ahlus-suffah yang telah mewakafkan dirinya, hidup hanya untuk urusan agama. Orang-orang yang saat ini memimpin Muhammadiyah, yang menjadi aktivis, muballigh dan sebagainya, 90 persen diduga waktunya sudah habis untuk mencari kebutuhan hidup. Diantaranya pegawai negeri. Pada pukul 06.30 sudah meninggalkan rumah untuk berangkat kerja dan pulang menjelang sore hari. Diajak untuk rapat Muhammadiyah pada waktu sore hari badan sudah terasa capek, diundang untuk mengikuti pengajian pada malam harinya sudah mengantuk. Inilah wajah pimpinan Muhammadiyah dimana-mana. Lalu, apa yang pimpinan Muhammadiyah ini harus yang sudah pensiun semua?

 

Ini artinya, para aktivis ini selalu menempatkan urusan bermuhammadiyah sebagai urusan nomor dua. Yang nomor satu itu tadi (soal pekerjaan) tidak ada yang berani nguthik-uthik (mengganggu-gugat). Padahal, dulunya sudah dilantik dan mengucapkan sumpah janji. Dan, paling-paling, dalam lima tahun sekali selama 10 hari ijin meninggalkan kantor untuk menghadiri Muktamar. Artinya, orang menjadi pimpinan Muhammadiyah paling banter menjadi urusan nomer dua, bahkan ada yang menjadikannya sebagai urusan nomor tiga, kalah dengan urusan undangan pesta. Yang lebih konyol, memikirkan urusan Muhammadiyah kalah dengan urusan nonton sepak bola atau siaran sepak bola di televisi.

 

Pak AR selalu berpesan kalau hendak menyusun pengurus baru agar dicari yang sudah punya pengalaman, yang berpendidikan, dan yang penting adalah yang masih punya waktu luang untuk mengurusi Muhammadiyah. Sebab, walau pinter, terkenal tulisannya, tapi tidak punya waktu untuk Muhammadiyah, tidak ada artinya di Muhammadiyah. Memang, waktu dilantik yang hadir sebagai pengurus banyak, tapi ketika diundang rapat yang hadir tinggal 5 orang saja. Mereka baru akan muncul lagi menjelang muktamar, karena ingin menjadi utusan. Apalagi bila muktamarnya diselenggarakan di Jogja, bisa sambil menengok anak yang sedang sekolah atau kuliah.

 

Soal waktu kapan kita sempatkan untuk Muhammadiyah, tidak harus menomorsatukan urusan Muhammadiyah, sebab tanggung jawab bekerja adalah penting. Tapi jangan karena soal sepele, kemudian urusan Muhammadiyah  ditinggalkan. Didalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 24 disebutkan: “Qul in-kaana aaba’ukum wa-abnaa’ukum wa-ikhwaanukum wa-azwaajukum wa-‘asyiiratukum wa-amwaalun iqtaraftumuuhaa wa-tijaaratun takhsyauna kasaabahaa wa-masaakina tardhaunahaa akhabba ilaikum min-Allahi wa-rasuulihii wa-jihaadin fii-sabiilihii fatarabbashuu khatta ya’tiya-Allahu bi-‘amrihi. Wa-Allahu laa-yahdil-qaumal-faasiqiin” (Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan (lebih kamu cintai) dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”). Jika urusan yang menyangkut orang tua, anak-anak, kerabat, saudara, barang dagangan koq sampai mengalahkan urusan jihad, maka tunggulah siksa Allah. Orang-orang tadi divonis sebagai orang fasik. Umumnya kalau baru ingat, baru akan mengurusi Muhammadiyah. Ini kalau saya kaitkan dengan ahlus-suffah.

 

Tidak tanggung-tanggung, kini 200 juta ummat Islam di Indonesia, maka kita harus mengerahkan segala kekuatan untuk urusan ini, yakni berislam melalui organisasi Muhammadiyah. Tujuan Muhammadiyah belum ada yang bisa mengalahkan: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Hal ini tidak bisa dicapai hanya dengan mengadakan rapat sebulan sekali, dengan snack dan konsumsi mewah, kemudian sehabis rapat tidak ada (kelanjutan) apa-apanya lagi….

 

 



[1] Tulisan ini adalah transkrip dari salah satu ceramah Ustadz K.H. Suprapto Ibnu Juraimi (alm), dalam satu kesempatan Rihlah Dakwah Majelis Tabligh PP Muhammadiyah ke PDM Dompu Nusa Tenggara Barat (sekitar tahun 2002-an). Ditranskrip secara bebas oleh Arief Budiman Ch.


Tags: Muqaddimah , RisalahIslam , K.H.SupraptoIbnuJuraimi
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website